Hikmah apa yang dapat kita ambil disaat menyaksikan kematian seorang sahabat, misalnya? Apakah terbersit dalam hati kita, bahwa esok atau lusa kitapun akan mengalami kematian seperti itu juga? Atau malah kita tidak senang setiap mendengar kalimat mati?
Ingatlah sahabatku, setiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Perhatikan
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57)
Tetapi mengapa banyak orang yang alergi ketika mendengan kata mati? Mengapa? Banyak faktor yang membuat seseorang enggan mati. Ada orang yang enggan mati karena ia tidak mengetahui apa yang akan dihadapinya setelah kematian; mungkin juga karena menduga bahwa yang dimiliki sekarang lebih baik dari yang akan didapati nanti. Atau mungkin juga karena membayangkan betapa sulit dan pedih pengalaman mati dan sesudah mati. Atau mungkin karena khawatir memikirkan dan prihatin terhadap keluarga yang ditinggalkan, atau karena tidak mengetahui makna hidup dan mati, dan lain sebagainya, sehingga semuanya merasa cemas dan takut menghadapi kematian.
Kiat menghadapi kematian adalah dengan memperbanyak ibadah dan amal sholeh. Dengan begitu kita semua siap dalam menghadapi kematian. Artikel ini dibuat khusus mengingatkan diriku sendiri agar tidak terlalu diperbudak oleh hawa nafsu. Sejujurnya saya hampir saja jatuh kedalam pelukan “Berhala” yang bernama Google setelah sekian lama mengikuti kontes Mengembalikan Jati Diri Bangsa itu. Na’u zubillahi min dzalik.











Suara dari langit2